Posts Tagged ‘kbm’

“Lik Man School” dan belajar di mana saja

Anhar Widodo

Angkringan adalah salah satu ruang publik yang mampu memerdekakan para penikmatnya. Di tempat tersebut tidak ada perbedaan kelas, status sosial, dan golongan tertentu. Dengan menu makanan dan variasi minuman yang khas, juga tempat dan cara kita menikmatinya, angkringan telah menjadi ruang produksi identitas budaya bagi kelompok masyarakat penggemarnya. Pada akhirnya angkringan telah menjadi sebuah gaya hidup, sama persis ketika orang-orang masuk ke mal untuk mendapatkan pengakuan dan identitas sebagai anggota consumer society.

Bedanya, angkringan bukanlah tempat yang instan dan menyediakan segala rupa makanan cepat saji. Orang saling lalu-lalang untuk meminta menu dan minuman tertentu sembari yang lain “berhitung” menu apa saja dan berapa banyak rupiah yang harus dibayarkan. Di angkringan tidak ada aturan dan standar baku bagaimana tata cara orang akan memesan dan memilih makanan dan minuman. Angkringan juga tidak pernah mempersoalkan pengunjungnya datang dengan sandal jepit atau sepatu mahal. Eloknya, angkringan masih menempatkan pembelinya (juga penjualnya)  sebagai manusia yang harus disapa dan diajak ngobrol apa saja. Bagi angkringan, pengunjung bukan semata dipandang dengan ukuran ekonomi politik tertentu dan menjadi eksploitasi konsumsi yang menggila seperti di mal.

Rutinitas menunggu kedatangan dan keberangkatan kereta yang akan mengantarkan saya kembali ke Solo, membuat saya dan sejumlah kawan menjadi pelanggan setia angkringan Lik Man di dekat Stasiun Tugu Yogyakarta. Saya juga tidak tahu persis benarkah ada nama Lik Man di antara deretan panjang pedagang angkringan tersebut. Pembicaraan yang paling konyol hingga yang sangat serius, mulai dari ekonomi, politik, sosial, budaya dan media telah menjadikan angkringan tersebut sebagai bagian tak terpisahkan dalam proses belajar teman-teman di Yogyakarta. Tidak sedikit ide dan gagasan yang bermuara menjadi tulisan, baik untuk tugas-tugas kuliah maupun artikel untuk media dan sejumlah jurnal ilmiah yang berawal dari diskusi di warung angkringan tersebut.

Tidak bermaksud menghadirkan kepongahan intelektual, adu gagasan dalam forum informal seperti angkringan, diakui beberapa teman dari sejumlah daerah –seperti Bengkulu, Medan, Palu, Gorontalo, Gresik, Pekanbaru, Magelang, Bandung, dan Surabaya—yang sedang belajar di Yogyakarta, ternyata sangat membantu dalam memahami dan menuntaskan sejumlah agenda pembelajaran yang tidak rampung di ruang-ruang kuliah. Alih-alih forum tersebut malah semakin mendekatkan sejumlah ide dan teori besar dalam buku-buku teks kepada realitas sosial –sehingga pada ujungnya gagasan besar dalam buku-buku teks tersebut dapat dimaknai secara kontekstual dan dapat membantu menyelesaikan sejumlah persoalan masyarakat.

Tidak ada klaim dan tidak perlu ada pengakuan dari banyak pihak, tetapi forum diskusi angkringan –yang kemudian menamakan diri sebagai “lik Man School” tersebut– telah menjadi semacam gudang gagasan, arena debat, pengayaan wacana dan pertarungan kepentingan –dalam arti yang sangat positif. Patut dicatat bahwa tidak ada sedikit pun jejak sejarah yang dapat menjelaskan bahwa sejak hampir dua tahun yang lalu pernah aktif sebuah kelompok diskusi angkringan yang bernama “Lik Man School”. Tidak juga ada nama-nama yang terikat secara struktural sebagai ketua, sekretaris atau jabatan yang lain.

Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai dokumentasi sejarah, tidak pula sebagai usaha publisitas sosial –tentu karena kawan-kawan di “Lik Man School” tidak punya pretensi dan tendensi apa pun terhadap lahirnya kelompok diskusi ini, dan tidak dimaksudkan sebagai organisasi yang melembaga. Pesan utamanya adalah bahwa belajar tidak berarti berafiliasi dengan sejumlah fasilitas dan ruang pembelajaran yang serba teratur dan tertata dalam konsep “dalam rangka”. Belajar tidak berarti ruang kelas ber-AC, dosen/guru yang bagus ataupun fasilitas seperti sarana informasi dan teknologi maju.

Belajar di mana saja

Gagasan tentang kelompok belajar mandiri ini semula dirintis kawan-kawan yang sedang belajar di Sekolah Pascasarjana Program Kajian Budaya dan Media UGM. Kelompok belajar yang memanfaatkan ruang dan waktu di sela perkuliahan regular, ternyata dianggap belum cukup memperkaya khasanah pengetahuan dan intelektualitas anggotanya. Kemudian beberapa kawan berinisiatif melanjutkan “perdebatan intelektual” yang belum tuntas tersebut ke ruang yang lebih bebas, dalam arti tidak terikat sejumlah aturan akademik, tidak terikat waktu, dan tidak sungkan dengan dosen pembimbing perkuliahan, alih-alih di angkringan selingan kopi dan berbagai jajanan pelengkapnya membuat kawan-kawan yang terlibat menjadi betah dan ‘ketagihan’ untuk kembali lagi.

“Lik Man School” yang dalam makna harafiah ditegaskan sebagai belajar bersama sambil wedangan –atau sebaliknya, wedangan sambil belajar digagas sebagai katarsis atas sejumlah kebuntuan harapan di ruang-ruang formal pembelajaran. Banyak pemikiran, teori, konsep dan ide pemikiran besar yang hanya berhenti pada paparan dosen di ruang kuliah. Pendalaman dan perluasan materi yang dikemas dalam suasana merdeka, santai dan tidak terikat, juga tanpa tema yang ketat justru membuat kawan-kawan peserta menjadi paham kontekstualisasi teoretis dengan melihat dan menunjuk langsung sejumlah contoh yang hadir di sekitar angkringan tersebut.

Memang pada akhirnya, kelompok belajar ini tidak hanya menempati salah satu tikar di angkringan Lik Man Stasiun Tugu Yogyakarta. Mereka kemudian menggunakan setiap ruang dan waktu pertemuan, entah di kafe, di tempat main bilyar, di kantin dalam lingkungan kampus, di kos salah seorang kawan, dalam perjalanan menghadiri undangan pernikahan juga memanfaatkan jejaring sosial di dunia maya seperti facebook dan twitter untuk, sekali lagi, memperbincangkan apa yang diperoleh di kelas-kelas formal.

Saat belajar telah menjadi praktik budaya, belajar dapat dilakukan dalam kondisi dan situasi yang bagaimanapun. Belajar dapat dilakukan dimana saja –seperti halnya komunitas belajar yang menamakan diri “Lik Man School” ini. Syarat utamanya adalah spirit dan gagasan yang tidak pernah berhenti dieksplorasi, dan tentu saja kesediaan waktu, tenaga dan pikiran untuk konsentrasi pada pokok persoalan yang sedang dipelajari.

Teringat pada nasehat seseorang, belajar tentang teori kritis dan belajar menjadi kritis sebenarnya tidak untuk sebuah proyek pengembangan ilmu pengetahuan yang akan menyelesaikan semua persoalan manusia. Lebih sederhana, kita diajak untuk belajar bertanya, menyoal dan mempersoalkan banyak agenda kemanusiaan yang sering kali justru menjadi hamba ilmu pengetahuan itu sendiri. Ayo diskusi,  ayo ke Lik Man!![]

Blogroll
Jaringan
Media
Categories