Archive for April, 2010

Suporter Bola dan Semangat Kaum Muda

Oleh Anhar Widodo

Penonton sepakbola, Bergiat di Lembaga Kajian Media dan Transparansi Informasi Publik (Matrik), Mahasiswa Pascasarjana Kajian Budaya dan Media UGM Yogyakarta

Kisah “nakal” suporter fanatik klub sepakbola Persebaya Surabaya, Bonek (bondho nekat, modal nekat), kembali menghiasi sejumlah media massa. Peristiwa besar yang menjadi berita utama sejumlah media adalah “perang batu” yang terjadi antara Bonek dengan warga di Solo dan sekitarnya, baik pada saat berangkat, Jumat (22/1) maupun saat kembali, Minggu (24/1). Sekali lagi, stigma negatif melekat pada suporter yang berlaku anarkis saat melakukan perjalanan –ke dan pulang dari—Bandung untuk mendukung tim kesayangannya bertanding. Suporter, dalam hal ini Bonek, dituding menjadi biang keladi dari semua kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan pasca bentrok dengan warga di sejumlah tempat. Apakah benar Bonek bertindak kasar dan anarkis tanpa sebab yang dapat dinalar secara logis?

Mengikuti praktik kultural yang semakin termediasi oleh perkembangan industri, informasi dan teknologi, patut kiranya kita memperhatikan pesan Kellner dan Durham sebagai berikut: With media and culture playing such important roles in contemporary life, it is obvious that we must come to understand our cultural environment if we want control over our lives (2006). Bukan tidak mungkin bahwa apa yang muncul dari praktik anarkis yang dilakukan suporter sepakbola seperti Bonek, adalah sebuah pesan yang tersurat maupun tersirat. Artinya, jika kita menelisik lebih dalam, pasti ada pesan yang sebenarnya akan disampaikan oleh para suporter, namun dengan cara yang kurang terpuji.

Apakah Bonek salah? Dalam hal ini, tidak serta merta kita dapat menuding bahwa mereka bersalah. Memang, merusak fasilitas umum, melukai orang lain, dan merugikan kepentingan masyarakat luas adalah sebuah tindakan yang tidak dapat dibenarkan oleh hukum. Akan tetapi sebaiknya tidak secara langsung kita menimpakan kesalahan dan anarkisme itu kepada mereka yang fanatik pada olah raga sepak bola itu.

Memahami orang muda

Chris Barker (2005) memberikan satu ruang tersendiri untuk menggambarkan betapa anak muda membawa peran yang cukup penting terutama sebagai manifestasi perlawanan simbolis terhadap tatanan hegemonik kelas. Bukan secara kebetulan juga, jika dalam sejarah kebangsaan kita, kaum muda menjadi agen-agen perubahan sosial, politik dan budaya. Bila kita masih percaya pada sejarah tentang Budi Utomo, Sumpah Pemuda, Proklamasi Kemerdekaan, Angkatan 66, atau Reformasi 1998 –kita akan menemukan betapa dalam narasi sejarahnya, pemuda adalah agen paling berpengaruh dalam setiap rentang momentum tersebut.

Spirit “perlawanan” dan “pemberontakan” adalah ciri khas yang lekat pada kaum muda. Dalam pengertian dan makna yang positif budaya perlawanan kaum muda melahirkan bentuk-bentuk budaya baru sebagai revisi atas budaya lama yang dianggap sudah tidak sesuai dengan jamannya. Lihat saja bagaimana gerakan Budi Utomo atau Sumpah Pemuda sebagai manifestasi perlawanan kaum muda terhadap penjajahan. Gerakan kaum muda pada Reformasi 1998 adalah perlawanan terhadap penindasan dan otoritarianisme politik orde baru. Artinya, menurut Barker (2005:456) perlawanan berangkat dari hubungan-hubungan kekuasaan dan subordinasi di mana sebuah kebudayaan yang mendominasi berusaha memaksakan dirinya dari luar untuk memengaruhi pada budaya-budaya yang subordinat.

Secara awam kita akan menjelaskan fenomena anarkisme suporter (yang memang didominasi kaum muda) sebagai bentuk “perlawanan” dalam arti yang negatif. Generasi muda adalah kelas masyarakat yang sedang mencari identitas kediriannya. Dia akan lepas dari masa kanak-kanak yang sangat tergantung pada pihak lain, orang tua, dan dalam waktu yang bersamaan, dia mendapat beban tugas dan tanggung jawab seperti orang dewasa, tetapi masih dalam bayang-bayang pihak lain, orang tua.

Secara serampangan, kaum muda, seperti halnya kelompok suporter Bonek, adalah bagian dari sejarah perjuangan identitas kaum muda Indonesia pada umumnya. Namun perlu diingat bahwa mereka, para bonek mania ini dalam posisi mendapatkan afirmasi negatif dari praktik sosial dan budaya yang berada disekitarnya. Dalam posisi yang demikian, bentuk “perlawanan” yang mereka hadirkan menjadi begitu saja mengamini apa yang telah ditempelkan oleh media, melalui pernyataan pakar dan pemerhati sosial budaya.

Suporter visioner

Suporter adalah bagian penting dari sepakbola yang tengah berjuang keras menjadi industri olah raga (baca: bisnis olah raga). Tanpa kehadiran suporter yang masuk ke stadion, dengan membeli tiket tentunya, untuk memberikan dukungan kepada tim kesayangan mereka, industri ini menjadi sekadar angan-angan. Sepak bola sebagai spectacle, tontonan yang menghibur, tanpa kehadiran penonton di lapangan, menjadi kehilangan makna, alih-alih industri yang selalu berhitung dengan untung rugi menjadi ragu untuk terlibat secara penuh mendukung olah raga.

Dari kasus (ulangan) anarkisme suporter yang terjadi baru lalu, sebaiknya kita mulai berpikir untuk membangun masyarakat suporter yang terpelajar (educated supporter). Tentu pemikiran dan sumbang saran dalam membangun masyarakat suporter yang terpelajar ini dapat datang dari semua pihak yang peduli dengan masa depan sepak bola dan suporter sepak bola Indonesia. Namun, tetap saja soal kebijakan dan formula yang akan diputuskan dan dilaksanakan sebagai sebuah program bersama menjadi tanggung jawab Kementrian Pemuda dan Olah Raga RI sebagai leading sector persoalan-persoalan olah raga dan pemuda.

Lebih jauh kita berharap pemerintah dapat memfasilitasi potensi dan daya kritis kaum muda Indonesia agar energi perlawanan dan semangat pemberontakan mereka tersalurkan secara positif. Membuka dialog dan mengajak mengurai persoalan mereka sendiri, untuk kemudian diajak merumuskan solusi yang paling tepat, adalah salah satu kemungkinan alternatif “mendengarkan” kaum muda yang sedang mencari identitasnya.

Bukan tidak mungkin, jika kaum muda Indonesia mau bekerja keras dan bekerja cerdas. Apa yang kita temukan dalam “perjalanan kreatif” khas anak muda akan menjadi obat mujarab bagi berbagai krisis, dan banyak “penyakit” di tengah masyarakat. Kaum muda, seperti halnya semboyan yang melekat pada kaos Bonek adalah kekuatan yang tidak terduga.  Bonek (baca: kaum muda): diam menakutkan, bergerak mengerikan.[]

Tools ‹ Anhar Widodo — WordPress

Tools ‹ Anhar Widodo — WordPress.

Komunikasi (untuk) Seni: Sebuah Prawacana

Komunikasi (untuk) Seni: Sebuah Prawacana

Komunikasi (untuk) Seni: Sebuah Prawacana[1]
Oleh Anhar Widodo[2]

Pengantar
Gagasan ini terinspirasi dari wacana dan pemahaman yang berkembang tentang komunikasi baik dari segi teoretik keilmuan maupun pada tataran aplikasi praktis. Hampir semua orang, setiap hari melakukan komunikasi, dan beranggapan bahwa (melakukan) komunikasi itu gampang. Mengapa harus belajar komunikasi, bukankah sejak kecil kita telah diajari tentang cara berkomunikasi, berbahasa dan lain sebagainya? Komunikasi itu mudah dilakukan. Benarkah komunikasi itu mudah? Deddy Mulyana menjelaskan, hanya bila orang memasuki suatu pengalaman di mana proses komunikasi yang biasa ia lakukan rusak atau macet, ia baru menyadari bahwa komunikasi itu ternyata tidak mudah.[3]
Dalam konteks komunikasi politik, mengapa Presiden tidak menghadiri sidang paripurna interpelasi DPR mengenai kasus nuklir Iran? Dalam konteks komunikasi personal, berapa banyak pasangan selingkuh yang melakukan hubungan “illegal” hanya karena tidak dapat ‘berkomunikasi’ dengan pasangan resminya? Berapa banyak pasangan suami-isteri yang kawin-cerai hanya karena “beda prinsip” atau karena “tidak cinta lagi”? Dalam domain komunikasi sosial, berapa orang yang merasa (secara diam-diam atau terus terang) tidak cocok dengan model interaksi sosial kita, tidak cocok dengan gaya kepemimpinan kita, tidak sepaham dengan cara kerja kita? Dalam ranah akademik, berapa mahasiswa yang merasa tidak puas dengan gaya mengajar para dosennya, atau sebaliknya berapa dosen yang sering memberikan apresiasi positif dengan kemajuan belajar mahasiswanya?
Dalam konteks kesenian, baik teori maupun praktik, berapa jumlah karya yang sudah terkumpul di rak perpustakaan dan almari audio visual, dan berapa yang sudah berdaya guna secara optimal? Dalam konteks ke-ISI-an berapa jumlah mahasiswa dan atau dosen kita yang telah melahirkan masterpiece (mahakarya) seni sebagai monumen dan dokumen sejarah, baik untuk pribadi maupun untuk lembaga?[4]
Mohon dimaafkan kalau tulisan ini bernada mengkritik dan menggugat eksistensi kita di sini? Bukan itu maksudnya. Daftar pertanyaan yang begitu banyak dan panjang tersebut adalah berbagai contoh nyata, betapa kita sangat mengerti dan memahami bahwa komunikasi itu sangat mudah dibicarakan namun sangat sulit untuk dijalankan. Bukankah komunikasi akan berjalan secara efektif dan efisien jika telah terjadi kesepahaman antara penyampai pesan (komunikator) kepada penerima pesan (komunikan).
Komunikasi, sebagai mana dituturkan Deddy Mulyana, sebenarnya bukan hanya ilmu pengetahuan, tapi juga seni bergaul. Agar kita dapat berkomunikasi efektif, kita dituntut tidak hanya memahami prosesnya, tapi juga mampu menerapkan pengetahuan kita secara kreatif (Kincaid dan Schramm, 1977:2). Komunikasi yang efektif adalah komunikasi dalam mana makna yang distimulasikan serupa atau sama dengan yang dimaksudkan komunikator –pendeknya, komunikasi efektif adalah makna bersama (Verdeber, 1978:7).[5]
Ranah komunikasi
Hampir semua disiplin ilmu sosial telah masuk dalam domain kesenian dan memberi andil cukup besar bagi kemajuan dan perkembangan karya dan kekaryaan seni. Psikologi seni, Sosiologi Seni, Politik Kesenian, Hukum (Hak Cipta dan Hak Kekayaan Intelektual), Antropologi Seni, Manajemen dan Ekonomi Seni, Industri dan Kewirausahaan Seni serta Komunikasi.[6]
Disiplin psikologi telah mencoba mengurai berbagai aspek dan sisi-sisi kejiwaan baik para kreator seni, pelaku seni dan penikmat seni dalam menghadapi sebentuk karya seni. Sosiologi telah melakukan pemetaan tentang aspek-aspek sosial hadirnya sebuah bentuk kesenian, mulai dari latar belakang, tujuan, struktur sosial dan ritual seni yang harus dijalankan serta bagaimana perkembangan setiap bentuk kesenian di masing-masing konteks sosialnya. Demikian halnya dengan antropologi yang mencoba memetakan kesenian dari segi (unsur) manusia dan kemanusiaan sebagai pembentuk karya seni tersebut. Dalam wacana manajemen seni dan kewirausahaan seni juga telah diupayakan agar seni dapat hidup dan menghidupi dirinya sendiri, serta agar seni dan kesenian memiliki nilai ekonomis yang tinggi –baik bagi karya itu sendiri maupun bagi para pelaku seninya.
Untuk yang terakhir, komunikasi, kita hanya mendapatkan konsep bahwa kesenian dan karya seni adalah proses komunikasi antara seniman dan audiens. Tetapi, bentuk komunikasi yang bagaimana? Model komunikasi yang seperti apa? Media komunikasi yang mana? Efek komunikasi yang seperti apa? Belum sepenuhnya disentuh oleh kesenian –atau sebaliknya, mengapa komunikasi belum mulai merambah objek kajiannya kepada seni dan kesenian (sebagai media komunikasi)? Di sinilah prawacana ini menemukan urgensinya.[7]
Gagasan ini menawarkan konsep sederhana, bagaimana sebaiknya komunikasi mengambil peran dalam mendukung pengembangan dan kemajuan kesenian, terutama seni pertunjukan?
Pengertian komunikasi. Jika ada seratus ahli komunikasi yang berkumpul jadi satu untuk memberikan pengertian tentang komunikasi, maka dapat dipastikan kita akan menemukan seratus jawaban yang berbeda pula. Hal ini, menurut Hafied Cangara[8] disebabkan karena banyaknya disiplin ilmu dan latar belakang tokoh yang telah memberi masukan terhadap perkembangan ilmu komunikasi, misalnya psikologi, antropologi, sosiologi, ilmu politik, manajemen, linguistik, matematika, elektronika dan lain sebagainya.
Harold D Lasswell menjelaskan bahwa cara yang tepat untuk menerangkan suatu tindakan komunikasi ialah menjawab pertanyaan “siapa yang menyampaikan, apa yang disampaikan, melalui saluran apa, kepada siapa dan apa pengaruhnya”. Sementara, Everett M Rogers mengungkapkan, komunikasi adalah proses di mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka. Rogers berkolaborasi dengan Kincaid melahirkan konsep komunikasi dengan definisi lebih baru: “suatu proses di mana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam”.[9]
Unsur Komunikasi. Hafied Cangara,[10] merangkum pendapat dari para ahli mengungkapkan bahwa unsur komunikasi terdiri dari Sumber-Pesan-Media-Penerima-Efek-Umpan Balik-Lingkungan. Dalam komunikasi antarmanusia, sumber bisa terdiri dari satu orang, bisa juga dalam bentuk kelompok misalnya partai, organisasi atau lembaga. Pesan (message, content, information) dalam proses komunikasi adalah sesuatu yang ingin disampaikan pengirim kepada penerimanya. Media adalah alat (teknis) yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber kepada penerima. Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber. Efek atau pengaruh adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan (pengetahuan, sikap, dan tindakan). Umpan balik adalah respon atau tanggapan kepada sumber pesan –baik dari media, penerima ataupun lingkungannya. Lingkungan atau situasi adalah factor-faktor tertentu yang mempengaruhi jalannya komunikasi (fisik, sosial budaya, psikologi, dan dimensi waktu).
Macam komunikasi manusia. Joseph A DeVito[11] dalam Communicology (1982) seperti dikutip Hafied Cangara, membagi komunikasi dalam empat macam, yakni (1) komunikasi antarpribadi, (2) komunikasi kelompok kecil, (3) komunikasi public, dan (4) komunikasi massa. Sementara dalam Human Communication (1980) tertulis ada lima macam tipe komunikasi yaitu (1) komunikasi antarpribadi, (2) komunikasi kelompok kecil, (3) komunikasi organisasi, (4) komunikasi massa, dan (5) komunikasi publik
Nurudin[12] sebagaimana halnya Cangara membagi komunikasi dalam empat tipe atau jenis yaitu (1) komunikasi dengan diri sendiri (intrapersonal communication), (2) komunikasi dengan orang lain (interpersonal communication), (3) komunikasi public (public communication) atau komunikasi kelompok kecil (small group communication) dan (4) komunikasi massa (mass communication).
Model komunikasi. Komunikasi adalah proses, klasiknya model komunikasi terbagi menjadi tiga yaitu (1) komunikasi satu arah, (2) komunikasi dua arah, dan (3) komunikasi banyak arah.
Dimensi komunikasi. Dalam perkembangannya, komunikasi ternyata menemukan banyak perspektif dan dimensi yang cukup luas, setidaknya (1) komunikasi adalah sebuah proses, (2) komunikasi sebagai symbol, (3) komunikasi sebagai sistem, dan (4) komunikasi sebagai multidimensi.[13]
Kajian multidisiplin.[14] Sebagai kajian multidisiplin, ilmu komunikasi mendapatkan dukungan banyak tokoh dari berbagai latar belakang ilmu, sebut saja misalnya John Dewey yang berlatar belakang filsafat dan psikologi, Charles Horton Cooley (sosiologi), Robert E Park (filsafat dan psikologi), George Herbert Mead (filsafat dan psikologi), Kurt Lewin (psikologi), Nobert Weiner (matematika), Harold D Lasswell (ilmu politik), Carl I Hovland (psikologi eksperimen), Paul E Lazarsfeld (matematika dan sosiologi), Claude E Shannon (elektronika), Wilbur Schramm (kesusastraan), dan Everett M Rogers (sosiologi pedesaan).
Manusia telah berkomunikasi selama puluhan ribu tahun. Sebagian besar waktu jaga manusia digunakan untuk berkomunikasi. Meskipun demikian, ketika manusia dilahirkan ia tidak dengan sendirinya dibekali dengan kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif. Kemampuan seperti itu bukan bawaan melainkan dipelajari. Seperti dikatakan Miller dan rekan-rekannya (1975:11), sedikit saja kita diajari oleh budaya kita bagaimana membina hubungan yang baik dengan sesama manusia sehingga kita dapat mewujudkan potensinya secara penuh (Deddy Mulyana, 2005:ix).
Harold D Lasswell menyebut tiga fungsi dasar yang menjadi penyebab mengapa manusia perlu berkomunikasi: (1) hasrat manusia untuk mengontrol lingkungannya; (2) upaya manusia untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya; dan (3) upaya melakukan transformasi sosial (pewarisan sosial).[15]
Komunikasi yang efektif memberikan keuntungan dalam mencapai tujuan-tujuan pribadi dan pekerjaan. Tidak sulit untuk menemukan contoh-contoh bahwa kemampuan berkomunikasi berhubungan erat dengan keberhasilan karier dan bahkan keberhasilan material, seperti yang ditunjukkan oleh Tanri Abeng, Koes Hendratmo, Miing Bagito, KH Zainuddin MZ [16]–yang teraktual bisa kita sebut Oprah Winfrey, Tukul, Aa Gym, Butet Kertaredjasa.
Secara teoritik kajian terhadap perkembangan ilmu komunikasi telah masuk ke semua aspek kehidupan manusia. Antoni[17] membagi kajian komunikasi dalam teba yang cukup luas. Mulai dari para penggagas konsep dasar komunikasi (Claude Shannon, dkk), kajian media (John Dewey, dkk), Pandangan alternative kajian media (Marshall McLuhan, dkk), Pendekatan kritis kajian media (Ben Bagdikan, dkk), Cultural Studies (James W Carey, dkk), komunikasi pembangunan dan komunikasi internasional (Wilbur Schramm, dkk), komunikasi sosial budaya (William B Gudykunst), komunikasi antar personal (Charles Berger), komunikasi organisasi (Carl Weick, dkk), komunikasi pemasaran (David Ogilvy, dkk) sampai kajian komunikasi tanda [semiotika komunikasi] (George H Mead, dkk).
Dalam buku yang cukup lengkap merekam jejak sejarah perkembangan ilmu komunikasi tersebut, belum termaktub secara langsung bagaimana komunikasi melakukan kajian dan wacana terhadap seni dan kesenian –di Indonesia utamanya—baik secara tekstual maupun secara kontekstual. Padahal pada akhir buku tersebut diungkapkan, penting memahami budaya Indonesia sebagai salah satu pendekatan dalam menjelaskan fenomena komunikasi dalam perspektif ke-Indonesiaan.
Kajian komunikasi (untuk) sosial budaya mula-mula dirintis oleh Willliams B Gudykunst[18] yang mengembangkan teori Uncertainty Reduction Theory Charles Berger menjadi Anxiety-Uncertain Management Theory (AUM). Teori ini memfokuskan pada pertemuan antara budaya dalam kelompok dan orang asing. Ia membagi objek penelitian (para awak kapal dan keluarga angkatan laut Jepang dan Amerika) dalam high context speaker dan low context speaker. Dalam AUM, Gudykunst melihat adanya factor ketidakpastian (uncertainty) dan kecemasan (anxiety) dalam situasi komunikasi antar budaya. Dia menemukan bahwa seluruh budaya mencari cara untuk mengurangi ketidakpastian dalam tahap-tahap dari suatu relasi sosial, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang berbeda
Kajian komunikasi antarbudaya di Indonesia mulai dikembangkan oleh Deddy Mulyana, sejak dia menulis disertasinya yang berjudul Twenty-Five Indonesians in Melbourne: A Study of the Social Construction and Transformation of Ethnic Identity (Monash University, Australia, 1995) yang diterjemahkan secara bebas menjadi Mengindonesia di Australia: Perubahan dan Kesinambungan Identitas Etnik.[19]
Stewart L Tubbs dan Silvia Moss dalam Human Communication: Konteks-Konteks Komunikasi (buku kedua) memberikan kajian pada Komunikasi Antarbudaya pada bagian tersendiri.[20] Namun demikian, mereka hanya mengkaji tentang (1) Definisi budaya, (2) Sarana komunikasi antarbudaya, (3) Kendala terhadap komunikasi antarbudaya, (4) Kendala terhadap pemahaman antarbudaya, dan (5) Efek komunikasi antarbudaya.
Bila ada pengertian yang memadai atas budaya-budaya regional dan nasional, adalah mungkin untuk memelihara perbedaan-perbedaan individual dan membiarkan anggota-anggota berbagai subkelompok dan kelompok untuk hidup berdampingan dan berkembang. Gudykunst dan Kim[21] menyatakan bahwa “keanekaragaman budaya dan etnik adalah perlu bagi komunitas untuk eksis (1992: 255); mereka menyarankan tujuh prinsip untuk membangun komunitas, prinsip-prinsip bagi kita untuk bertanggung jawab: (1) milikilah komitment, (2) berhati-hatilah, (3) terimalah tanpa syarat, (4) pedulikan diri kita sendiri dan orang lain, (5) bersikaplah penuh pengertian, (6) bersikaplah etis, dan (7) bersikaplah damai.
Sebuah tantangan
Bagi saya, orang komunikasi yang masuk di rimba belantara seni, sejumlah perspektif bergumpal jadi satu dan akhirnya membuat kepala jadi pusing. Bagaimana tidak? Saya sangat awam dengan teori dan konsep yang dikembangkan dalam dunia kesenian, meskipun saya termasuk orang yang masih terkagum-kagum dengan output pendidikan tinggi seni. Luar biasa!!! Kembali saya teringat bahwa pondasi yang saya bangun adalah ilmu komunikasi, maka tantangan yang saya hadapi adalah bagaimana agar kompilasi pengetahuan yang saya bawa ini dapat memberikan nilai tambah bagi pengembangan dan peningkatan disiplin keilmuan seni? Dengan segala kerendahan hati dan keberanian yang dipaksakan, saya menawarkan diri untuk bisa diterima, ajur-ajer bersanding dengan kesenian –disamping terus bergulat dengan gigih untuk dapat membuat formulasi ilmu komunikasi yang applicable untuk disiplin seni.
Menarik garis demarkasi antara disiplin keilmuan dengan domain kesenian adalah sebuah kemunduran sejarah manusia. Memperdebatkan keduanya tanpa melihat celah kemungkinan mempersatukan adalah debat kusir primitive yang pada akhirnya membuat jarak untuk keduanya. Bagi saya seni adalah ilmu dan ilmu adalah seni yang saling melengkapi dan tidak mungkin untuk saling menggantikan. Menawarkan disiplin ilmu komunikasi (dengan segenap kompleksitas dan kekurangannya) sebagai salah satu pisau analisis untuk ikut membedah seni (yang tak kalah rumitnya), adalah lahan garap baru yang memungkinkan keduanya bersinergi untuk sama-sama maju dan berkembang.
Seni dalam arti seluas-luasnya adalah proses komunikasi, dan komunikasi dalam arti yang paling sempit sekalipun adalah sebuah seni. Bagaimana sebuah inspirasi hadir, ide karya digali dan dikembangkan, model dan bentuk diciptakan, karya diasah dengan berlatih, dipoles dan disempurnakan, kostum didesain, make-up dipilih, setting panggung digarap, iringan disinergikan dengan gerak dan tata cahaya, karya dipentaskan, penonton diundang, tepuk tangan applause penonton diasungkan, evaluasi dijalankan, kritik ditulis, berita peristiwa seni dibaca, dikomentari sampai pada kehadiran karya selanjutnya, adalah teba yang sangat mungkin dijangkau oleh ilmu komunikasi. Bagaimana tradisi dikonservasi, mahakarya direstorasi, bentuk-bentuk direkonstruksi, untuk selanjutnya dihidupkan kembali juga sangat memungkinkan ditarik ke dalam perspektif komunikasi.
Bukan sebuah apologi, jika gagasan ini masih sangat dangkal dan jauh dari tuntas. Justru karena keterbatasan saya dalam mengasungkan gagasan ini, menjadi sangat menarik jika ada kritik dan saran konstruktif untuk menyempurnakannya.
Beberapa tawaran. Berbagai ilmu dan ketrampilan komunikasi yang memungkinkan untuk masuk lebih dalam dalam domain kesenian dapat dipisahkan dalam dua mainstream yaitu (1) komunikasi sebagai disiplin keilmuan teoretis dan (2) komunikasi sebagai ketrampilan praktis.
Dari perspektif keilmuan, komunikasi menawarkan banyak pendekatan dalam menganalisis berbagai fenomena proses interaksi sosial individu dan masyarakat, salah satu yang sedang menjadi trendsetter dalam kajian komunikasi antarbudaya adalah pendekatan interaksionisme simbolik, sebagaimana yang digunakan Deddy Mulyana dalam menuliskan disertasinya. Hampir serupa adalah disertasi Dr Santosa S.Kar., M.Mus., M.A dalam menganalisis kelompok gamelan sebagai objek kajiannya.
Saya sedang mencoba merumuskan kait-kelindan-relasi (interaksi komunikasi) antara kesenian dan media massa dengan melakukan analisis sejumlah berita kesenian sepanjang tahun 2006 lalu. Penelitian dengan menggunakan pendekatan analisis isi (content analysis) ini diharapkan menemukan formulasi relasi ideal antara peristiwa/proses kesenian dengan proporsionalitas (kualitas dan kuantitas) pemberitaan/reportase/laporan. Harapan terakhirnya adalah adanya kemungkinan media (komunikasi) massa mampu menjadi jembatan sejarah yang valid dan reliable dalam melakukan proses dokumentasi kehidupan seni.
Penelitian yang mengangkat realitas tentang kesenian dengan menggunakan perspektif teori ilmu-ilmu sosial, terutama komunikasi, masih jarang –kalau tidak bisa dikatakan langka. Asumsi ini diperkuat dengan data dan fakta bahwa dari sekian banyak hasil penelitian di lingkungan ISI Surakarta, belum ada penelitian yang mengkhususkan diri pada kajian seni dan media massa.
Suratno, S.Kar., M.Mus dan kawan-kawan dalam tulisan berjudul Warseno Slenk, Kiatnya sebagai Dalang Laris, memaparkan bahwa media massa adalah salah satu alat promosi. Dalam penelitian itu dituliskan, Warseno Slenk menyadari bahwa media massa adalah alat yang ampuh untuk promosi dan publikasi dalam rangka merintis popularitas.[22]
Bambang Murtiyasa,[23] menuliskan setidaknya ada tujuh faktor yang mendukung popularitas dalang. Ketujuh faktor itu adalah: (1) Daerah dan frekuensi pentas; (2) Golongan penanggap; (3) Keperluan pentas; (4) Alasan pemilihan dalang, diantaranya, kemampuan dalang, angsar, pendukung, lembaga, gaya permainan dan status sosial; (5) penggemar dalang; (6) Sponsor dalang; dan (7) media massa sebagai sarana publikasi.
Dari 120 judul skripsi di STSI Surakarta sepanjang tahun 2000-2005, tidak satu pun meneliti dan menulis tentang relasi media massa dan kesenian. Fakta ini memperkuat dugaan, tidak adanya referensi yang layak dijadikan rujukan bagi mahasiswa dalam membuat penelitian tentang kesenian dan (komunikasi) media massa. Lebih jauh kita dapat berasumsi bahwa penelitian di kalangan pengajar juga demikian adanya, tidak ada yang mengaitkan kesenian dengan media massa.
Tentu saja ada kemungkinan dan alternatif lain dalam melihat peluang komunikasi berperan dalam membangun dan mengembangkan seni, terutama dari sisi “komunikasi adalah seni”. Dalam tataran praktis, komunikasi (dengan atau tanpa media massa) adalah salah satu faktor ketrampilan lain sebagai pendukung kompetensi seorang sarjana seni dan seniman sarjana. Ketrampilan berbicara di depan publik, ketrampilan melakukan presentasi, kemampuan mengatasi keberatan (handling objection), komunikasi pemasaran (marketing communication), teknik lobby dan negosiasi adalah beberapa contoh ketrampilan praktis yang sangat mungkin dikembangkan di lingkungan akademis berbasis kesenian. Sekali lagi, bukan untuk mendistorsi atau mengkooptasi kesenian dalam domain pasar global, alih-alih mampu membawa lokalitas dan tradisi sebuah kesenian dalam wacana global. Wallahua’lam bish-Shawab[]

REFERENSI BACAAN
Antoni. Riuhnya Persimpangan Itu, Profil dan Pemikiran Para Penggagas Kajian Ilmu Komunikasi, Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2004
Bambang Murtiyasa, Faktor-faktor Pendukung Popularitas Dalang, Thesis S-2 Kajian Ilmu Humaniora UGM, 1995
Beilharz, Peter. Teori-Teori Sosial, Observasi Kritis terhadap Para Filsuf Terkemuka. Jogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005
Booher, Diana, Speak with Confidence, Presentasi Luar Biasa yang Informatif, Inspirasional dan Penuh Daya Bujuk, Jakarta: Buana Ilmu Populer, 2004
Camus, Albert, dkk., Seni, Politik dan Pemberontakan, Jogyakarta: Bentang Budaya, 1998
Deddy Mulyana, Dr., MA., Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya, Bandung: Remaja Rosdakarya, Cetakan Pertama, Oktober 2001
Fay, Brian. Filsafat Ilmu Sosial Kontemporer. Jogyakarta: Jendela & Tadarus, 1998
H. Hafied Cangara, Prof. Dr., M.Sc., Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta: Rajawali Pers, Cetakan Keenam Januari, 2005
McQuail, Denis, Teori Komunikasi Massa (edisi kedua), Jakarta: Erlangga, Cetakan Keempat, 1996
Nurudin, Komunikasi Massa, Malang: Cespur, Cetakan I September 2003
Rustopo dan Bambang Murtiyoso (editor), Mencermati Seni Pertunjukan III, Perspektif Pendidikan, Ekonomi & Manajemen, dan Media, Surakarta: The Ford Foundation dan Program Pendidikan Pasca Sarjana STSI Surakarta, Cetakan Pertama, Maret, 2005
Suratno, S.Kar., M.Mus dkk, Warseno Slenk, Kiatnya sebagai Dalang Laris, hasil penelitian, 1997
Tubbs, Stewart L., Sylvia Moss, Human Communication: Konteks-Konteks Komunikasi (Buku Kedua), Bandung: Remaja Rosdakarya, cetakan keempat, 2005
Y. Sumandiyo Hadi, Prof., Dr., Sosiologi Tari: Jogyakarta, Penerbit Pustaka, 2005.
[1] Makalah disampaikan dalam forum Diskusi Bulanan Jurusan Seni Tari ISI Surakarta, 22 Juni 2007
[2] Penulis adalah dosen Jurusan Seni Tari ISI Surakarta, pengampu (dan anggota tim) matakuliah Ilmu Komunikasi, Komunikasi Massa, Metodologi Penelitian I & II, Sosiologi Seni dan Pengetahuan Kebudayaan Nusantara. Sedang sungguh-sungguh untuk mencoba mempelajari seni, kesenian dan kebudayaan dari perspektif Ilmu Komunikasi (Massa)
[3] Deddy Mulyana, Dr, MA, Mengapa Kita Mempelajari Komunikasi?: Sebuah Pengantar, dalam Stewart L Tubbs dan Sylvia Moss, Human Communication, Konteks-konteks Komunikasi (buku kedua). PT Remaja Rosdakarya Bandung, cetakan keempat, Oktober 2005, halaman vii.
[4] Pertanyaan ini cenderung retoris dan sangat naïf karena penulis secara sendiri dan sungguh-sungguh belum mencoba melakukan eksplorasi dokumentasi yang ada, hanya berdasarkan sejumlah asumsi dan dugaan-dugaan yang mungkin sangat debatable.
[5] Deddy Mulyana, Op. Cit, halaman viii.
[6] Asumsi ini berdasarkan pada muatan kurikulum yang disusun jurusan termasuk sebaran jenis dan nama matakuliah serta silabus (dan course content) yang ada. Tentu juga didasarkan pada tuntutan kompetensi lulusan mahasiswa Jurusan Seni Tari dan mahasiswa ISI Surakarta secara umum.
[7] Ide ini muncul berdasarkan pengalaman penulis mengampu matakuliah ilmu komunikasi dan ilmu komunikasi massa di Prodi Karawitan dan Pedalangan. Juga fakta yang menjelaskan bahwa di Jurusan Tari, ternyata tidak ada muatan materi ilmu komunikasi yang dikemas sebagai matakuliah tersendiri.
[8] H. Hafied Cangara, Prof, Dr, MSc, Pengantar Ilmu Komunikasi, Rajawali Pers, Jakarta, cetakan keenam Januari 2005, halaman 17.
[9] Hafied Cangara, ibid. halaman 18-19.
[10] Ibid., halaman 21-27.
[11] Hafied Cangara (rangkuman) Ibid., halaman 29-36
[12] Nurudin, Komunikasi Massa, Cespur, Malang, Cetakan I, Sept 2003, halaman 12-15
[13] Hafied Cangara, op. cit., halaman 49-54
[14] Hafied Cangara, ibid., halaman 61-80
[15] ibid., halaman 2-3
[16] Deddy Mulyana, loc. Cit., halaman xi
[17] Antoni, Riuhnya Persimpangan Itu: Profil dan Pemikiran Para Penggagas Kajian Ilmu Komunikasi, Tiga Serangkai, Solo, 2004, halaman 37-287
[18] Antoni, ibid., halaman 233-234
[19] Deddy Mulyana, Dr., MA. Mengindonesia di Australia: Perubahan dan Kesinambungan Identitas Etnik, lampiran 1 Buku Metodologi Penelitian Kualitatif, Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosia lainnya, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, Cetakan Pertama, Oktober 2001, halaman 229-253.
[20] Stewart L Tubbs dan Sylvia Moss, Human Communication, Konteks-konteks Komunikasi (buku kedua). PT Remaja Rosdakarya Bandung, cetakan keempat, Oktober 2005, halaman 235-266
[21] Ibid., halaman 261-262
[22] Suratno, S.Kar., M.Mus dkk, Warseno Slenk, Kiatnya sebagai Dalang Laris,hasil penelitian, 1997halaman 54.
[23] Bambang Murtiyasa, Faktor-faktor Pendukung Popularitas Dalang, Thesis S-2 Kajian Ilmu Humaniora UGM, 1995, halaman 42-73

Tulisan ini pernah saya unggah di blog saya (http://anharw.blogspot.com/2007/08/komunikasi-untuk-seni-sebuah-prawacana.html) Senin, 06 Agustus 2007

“Bedah Rumah”: Komodifikasi Kemiskinan dan Budaya Konsumsi

“Bedah Rumah”: Komodifikasi Kemiskinan dan Budaya Konsumsi

Oleh Anhar Widodo

“Bedah Rumah” adalah sebuah program reality show yang membantu orang merenovasi rumahnya menjadi layak huni. Acara tersebut membawa bintang tamu-nya untuk tinggal bersama dengan keluarga yang akan “dibedah” rumahnya. Narasinya terkadang harus dibumbui dengan sedu-sedan dan air mata untuk menunjukkan bahwa keluarga tersebut layak dibantu, alih-alih pantas mendapatkan hadiah yaitu rumah mereka akan direnovasi oleh Tim Bedah Rumah.
Natalie Sarah, sang artis, datang pada satu keluarga yang terdiri dari seorang nenek tua, seorang lelaki –anak sang nenek yang menderita kelainan fisik, dan seorang perempuan lebih muda (adik sang nenek). Natalie melakukan survei, untuk itu dia perlu tinggal bersama keluarga tersebut dalam beberapa hari ke depan. Dia berinteraksi dengan semua anggota keluarga –terutama sang nenek pemilik rumah. Dialog seputar kehidupan keluarga terjadi di sela-sela aktivitas sang nenek menjalani hari-harinya. Pagi hari, sang nenek pergi ke kebun untuk mengumpulkan ranting dan dahan-dahan yang jatuh dari pohon sebagai kayu bakar. Digambarkan bagaimana susahnya memasak dengan kayu bakar, karena mereka tak mampu membeli minyak tanah, alih-alih kompor gas dan elpijinya.
Tampak bagaimana mereka makan dalam kesederhanaan, nasi berlauk krupuk. Kemudian bagaimana mereka harus berbagi tempat tidur, yang sebenarnya tidak layak disebut sebagai kamar tidur –sebenarnya sangat kontras pada saat terlihat ternyata kamar tidur Natalie dilengkapi dengan kasur dan bantal yang sepertinya baru, plus selambu untuk melindungi dari gigitan nyamuk. Natalie “dipaksa” merasakan menggunakan kamar mandi dan WC yang sangat tidak layak. Secara lengkap “narasi kesedihan” Natalie hidup bersama keluarga tersebut tergambar bagaimana rumah tersebut sangat tidak layak dianggap sebagai rumah.
Pada hari ketiga, Natalie Sarah mengutarakan maksud sebenarnya dia datang kepada keluarga tersebut. Saat nenek dan keluarga membaca tulisan “Selamat, Anda mendapatkan program Bedah Rumah”, maka meledaklah tangis haru dan bahagia. Mereka saling berpelukan, kemudian berkemas untuk pergi sejenak meninggalkan rumah, selagi direnovasi. Keluarga nenek tersebut dibawa ke sebuah hotel di tengah kota. Mereka dijamu dan mendapatkan pelayanan istimewa: makanan, minuman, hiburan, hadiah dan kamar tidur –di dalamnya ber-AC, selimut tebal, kasur empuk dan televisi yang besar. Menjelang tengah malam, keluarga sang nenek diajak pulang untuk melihat bagaimana rumah mereka setelah direnovasi.
Dalam hitungan ketiga, selambu penutup rumah dibuka, dan mimpi menjadi kenyataan –rumah sang nenek telah “disulap” menjadi sedemikian bagus dari sebelumnya. Sekarang rumah itu memiliki semua kelengkapan rumah semestinya: ada lampu penerangan yang cukup, dinding yang rapat dan tebal untuk menghalau angin pada malam hari, ruang tamu dengan kursi sofa, ruang keluarga dengan meja makan dan kulkas, kamar tidur dengan kasur yang empuk, dapur dengan kompor dan gas elpiji, kamar mandi yang bersih, dan pintu yang bisa dirapatkan kuncinya. Tak terkatakan rasa bahagia dan terima kasih mereka, karena rumahnya telah menjadi sedemikian bagus. Demikianlah kilasan cerita Bedah Rumah yang ditayangkan RCTI pada Jumat (23/1) lalu.

Media dan Kemiskinan
Sebagai industri, apa yang muncul dalam setiap tayangan program televisi selalu berhitung dengan kalkulasi ekonomi yang berujung pada hasil, untung/rugi –tak terkecuali program Bedah Rumah yang dalam realitas media menampilkan berbagai citra menurut penilaian normatif masyarakat. Kesadaran sebagian masyarakat akan arti penting dan kekuatan media dalam membangun kendali atas berbagai citra menjadikan apa yang disebut sebagai “realitas media” kadang disalah-artikan sebagai “realitas sosial”.
Tak diragukan lagi, saat media menjadi sebuah wahana pengembangan budaya, maka apa yang dihadirkan media seringkali dimaknai sebagai apa yang ada dan harus ada dalam kenyataan sebenarnya. Menjadi relevan apa yang dikatakan oleh Baudrillard (Madan Sarup, 2007) bahwa media menciptakan dunia simulasi yang kebal terhadap kritik rasional –tidak ada satu pun iklan yang menampilkan sesuatu secara rasional. Sangat rasional apa yang muncul dalam Bedah Rumah adalah sebuah simulasi.
Media dengan kekuatan dan peluang yang dimiliki akan melihat setiap celah yang menguntungkan bagi industri layak menjadi komoditas. Program Bedah Rumah dan juga program lain sejenis menjadikan kemiskinan sebagai tontonan yang pantas dikonsumsi masyarakat luas –seperti halnya isu-isu miring dan aib seputar selebritis dalam sejumlah tayangan infotainmen. Kemiskinan yang membuat banyak penonton menangis dan terharu adalah sebuah komoditas menguntungkan bagi para pemilik modal, alih-alih jika berdasarkan survei, rating dan share audience-nya tinggi.
Lantas bagaimana keluarga sang nenek akan menjalani kehidupan dengan rumah dan gaya hidup barunya? Dahulu, mereka hidup dengan mengandalkan kemurahan alam, kayu bakar, sinar matahari, daun-daunan sayuran dan sebagainya. Setelah rumah mereka dibangun dan dilengkapi dengan fasilitas yang serba modern, ada kompor gas, kulkas dan penerangan listrik yang cukup, dapatkah mereka memenuhi kebutuhan konsumsi bulanan, setidaknya untuk membeli elpiji dan membayar tagihan listrik?

Konsumsi
Memang konsep konsumerisme di sini tidak sama persis dengan perspektif yang berkembang dalam wacana kajian budaya. Namun inilah faktanya: untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti biasa saja mereka sangat terbatas, bagaimana mereka akan memenuhi gaya hidup yang menuntut “serba belanja” dan “serba uang”. Kalau pun mereka diberikan modal usaha, sudahkah ketrampilan usaha tersebut dimiliki sehingga pengusahaannya dapat dipastikan berhasil dan dapat menjadi penopang hidup barunya?
Persoalan ekonomi yang tidak tuntas ini berkelindan dengan masalah budaya baru, misalnya soal kamar tidur dan kamar mandi. Tidak jarang orang terbiasa tidur tanpa alas menjadi sangat tersiksa saat harus tidur di atas kasur yang empuk. Tidak sedikit pula orang yang terbiasa memenuhi kebutuhan fisiologisnya berbaur dengan alam (di sungai), tidak nyaman harus mandi dan buang hajat di kamar mandi yang bersih dan tertutup. Saya tidak yakin, tim Bedah Rumah berpikir sampai ke persoalan itu, alih-alih melakukan proses transformasi budaya dengan pelatihan atau kursus.
Kemiskinan yang dibenturkan dengan budaya konsumerisme akan melahirkan sebuah konstruksi budaya yang ambivalen: pada satu sisi tidak mungkin dalam sebuah kemiskinan seseorang dapat “berbelanja”, padahal tuntutan gaya hidup mendorong untuk tetap belanja demi hidup yang terus berjalan. Jika modalitas ekonomi dan budaya, meminjam istilah Bourdieu, tidak juga terpenuhi mereka tetap akan kembali kepada kemiskinannya. Hidup dari alam dan sedikit demi sedikit menjual apa yang telah dimilikinya.
Grossberg dan kawan-kawan dalam Media Making: Mass Media in a Popular Culture (Sage Publication, 2006) menegaskan bahwa media mempunyai peran dalam memproduksi identitas masyarakat, membangun relasi produksi, distribusi dan konsumsi, serta bagaimana pada titik tertentu media membangun sebuah perilaku atau tindakan tertentu. Intinya, bagaimana media berpengaruh secara langsung maupun tidak dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam ekonomi, politik, sosial dan ideologi, alih-alih bagaimana media berkontribusi signifikan pada proses-proses globalisasi yang melahirkan imperialisme kebudayaan karena adanya ‘global media’.
Betapa media mempunyai kekuatan yang luar biasa dalam membangun sebuah perubahan –mendorong dinamika sosial budaya masyarakat –sesuai dengan apa yang diharapkan oleh media sendiri. Media dengan segenap kekuatannya mampu membangun sebuah konstruksi masyarakat sebagai audiens dengan idenditas budaya tertentu –yang sangat bergantung pada bagaimana media berlaku dan bagaimana sebenarnya proses konsumsi media dijalankan.[]

Anhar Widodo

Peneliti dan Direktur Media Lembaga Kajian Media dan Transparansi Informasi Publik (Matrik), Mahasiswa Sekolah Pascasarjana Kajian Budaya dan Media UGM, Dosen ISI Solo
anhar_widodo@yahoo.com

dibagi dari link berikut ini: http://anharw.blogspot.com/2009/05/bedah-rumah-komodifikasi-kemiskinan-dan.html

Hello world!

Welcome to Berpacu dlm Kreatifitas dan Prestasi. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Blogroll
Jaringan
Media
Categories