Tahun Politik dan Masa Depan Salatiga

Anhar Widodo

Peneliti Lembaga Kajian Media dan Transparansi Informasi Publik (Matrik)

Tahun 2011 ini bisa disebut sebagai “tahun politik” bagi masyarakat Kota Salatiga. Jika tidak ada perubahan jadwal dari Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Salatiga, tanggal 8 Mei 2011 mendatang, warga Kota yang sudah mempunyai hak pilih berdasarkan undang-undang dan peraturan yang berlaku akan memilih walikota dan wakil walikota Salatiga periode 2011-2016. Persoalan yang mesti diperdebatkan sekarang adalah bukan siapa yang akan memenangkan pilkada dan menjadi walikota dan wakil walikota pada lima tahun mendatang. Lebih dari semuanya, diskusi tentang wajah kota seperti apa yang kita harapkan pada lima tahun ke depan menjadi lebih penting dan rasional, terutama sebagai bagian dari proyek edukasi politik masyarakat.

Memperdebatkan siapa yang pantas dan layak memimpin Salatiga lima tahun ke depan akan menempatkan warga Kota pada posisi mendukung dan atau menolak nama/pasangan tertentu. Masyarakat menjadi terbelah pada berbagai kepentingan politik sesaat yang kontraproduktif bagi cita-cita dan masa depan Kota yang lebih baik. Pada masyarakat yang cenderung pragmatis, momentum seperti ini akan menjadi entry point (titik masuk) praktik politik transaksional (baca: politik uang). Lebih jauh kekuatan politik dengan modal ekonomi yang lebih besar, secara matematis akan mengalahkan politik yang kaya gagasan dan kuat secara moral. Padahal justru kekuatan politik gagasan dan etika politik yang santun-lah yang mestinya dapat memberikan bukti secara lebih terukur dan terencana atas sejumlah janji-janji politiknya.

Meneropong Salatiga lima tahun ke depan berarti kita perlu melakukan refleksi atas pencapaian-pencapaian pemerintahan yang berjalan lima tahun terakhir. Tidak untuk sekadar memuji apa yang dihasilkan dan menghujat apa yang gagal/belum direalisasikan, lebih tepat kita mencari titik untuk beranjak menyongsong pemerintahan baru yang akan datang. Berbagai catatan yang dihasilkan diharapkan menjadi rekomendasi dan prioritas program bagi, siapapun, yang terpilih menjadi walikota dan wakil walikota berikutnya. Salatiga memiliki empat perguruan tinggi, yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) , Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE AMA), Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STIBA) dan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Diharapkan melalui ruang-ruang intelektual dan kajian-kajian akademis pada perguruan tinggi tersebut, wajah Salatiga lima tahun ke depan dapat diproyeksikan mulai dari sekarang.

Praktis selain besar karena lahirnya ilmuwan-pemikir kritis dari kampus-kampus tersebut, Salatiga jarang disebut dalam pentas regional maupun nasional. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi siapa pun yang menjadi pemimpin Salatiga lima tahun ke depan untuk merumuskan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang visioner tanpa meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal khas Salatiga.

Perguruan tinggi di Salatiga adalah representasi intelektual masyarakat Kota Salatiga. Sebagai persemaian ilmu pengetahuan dan teknologi, kampus dianggap lebih netral dan objektif melihat persoalan masyarakat. Jadi sangat dimungkinkan bahwa untuk melahirkan gagasan besar Salatiga lima tahun ke depan, kampus menjadi yang pertama dan utama memelopori debat tentang masa depan Salatiga. Dengan menanggalkan pretensi dan tendensi politis, jernihnya gagasan dari kampus semestinya layak didengarkan siapa saja, tak terkecuali mereka yang akan berkompetisi memenangkan hati rakyat Salatiga pada Pilkada tahun ini.

Dengan jumlah penduduk sebanyak 170.022 (data akhir tahun 2009), Salatiga masuk kategori kota kecil. Meskipun demikian tidak berarti persoalan-persoalan yang muncul di tengah masyarakat dapat dianggap kecil. Setiap potensi permasalahan, terutama yang menyangkut hajat hidup masyarakat seperti soal kemiskinan, kesempatan kerja, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dan persoalan pluralisme yang cukup kental di Salatiga adalah sejumlah agenda yang belum sepenuhnya tuntas. Justru karena secara kewilayahan yang kecil dan jumlah penduduk yang sedikit di banding pemerintah kota yang lain di Indonesia, maka setiap persoalan menjadi mudah muncul ke permukaan. Sistem birokrasi yang tangkas, kompeten, transparan, akuntabel dan solutif bagi setiap persoalan publik adalah tuntutan yang tidak bisa ditunda lagi.

Salatiga dalam Angka (2009) menyebutkan jumlah PNS di lingkungan Pemerintah Kota Salatiga berjumlah 4.078 orang. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, pada tahun yang sama, maka rasionya adalah 41,6. Dengan kualitas sumber daya manusia yang terus ditingkatkan, kompetensi yang selalu dikembangkan dan jiwa pelayanan yang terus diasah, bukan tidak mungkin efektivitas dan efisiensi pekerjaan akan semakin membaik. Isu-isu popular yang demikian sepertinya layak diperdebatkan.

Salatiga adalah kota jasa. Segenap aset dan potensi yang dikembangkan mestinya bertumpu pada kualitas sumber daya manusia yang professional dengan karakter yang kuat dan membawa akar budaya sendiri. Untuk mewujudkan Salatiga Hati Beriman (sehat bersih tertib indah dan aman)  maka membangun warga kota yang sejahtera dalam pengertian yang paling awam adalah ekonomi, mandiri dalam kompetisi hidup yang semakin berat dan bermartabat dalam tata pergaulan secara luas adalah sebuah keniscayaan. Pendidikan dan kesehatan adalah jawaban pertama agar cita-cita besar tersebut dapat direalisasikan.

Pada akhirnya, yang berhak menentukan Salatiga lima tahun ke depan adalah warga kota sendiri melalui proses demokrasi yang disebut pemilihan umum kepada daerah (pilkada) kota Salatiga. Jauh sebelum sampai pada hari pemungutan suara mestinya partai politik, kampus, LSM dan media mestinya memainkan peran dalam mentranformasi ide dan gagasan politik dalam proyek bersama yang disebut “edukasi politik”. Artinya setiap warga kota yang pada hari pemungutan suara telah memiliki hak pilih dapat mempergunakan haknya dengan tanggung jawab pada masa depan kota lima tahun ke depan.[]